AKU MERINDUKAN MEREKA…
September 4, 2006
“Mau beli apa nak?”, tanya Papa.
“Chi mau maltabak Pap..”
“Yang telor apa yang manis…”
“Yang telol ajah… Chi nggak suka yang manis-manis..”
…Echi kecil duduk di boncengan Papa, dengan erat memeluk pinggangnya. Dibawa jalan keliling rumah tetangga naik GL Pro, sore-sore habis mandi…
Tiba-tiba saya teringat semua, kemarin pas naik angkot menuju kos. Seorang anak kecil mungil duduk di boncengan motor papanya. Yang dengan polos memeluk erat tubuh itu karena hanya ada dua pilihan : peluk Papa atau jatuh. Bukan karena ia tau, mengapa harus memeluk Papa?
[Papa, putrimu ini sudah banyak berubah. Sudah sering jatuh. Sudah belajar mencari sosok seperti dirimu, dan menjadikannya Papa bagi anakku kelak. Sudah mengenal dosa dan karmanya. Mengenal cinta dan sakitnya. Dan masih sering merasa sendiri saja saat merindukan orang-orang tercintanya…
Tapi aku tetap putrimu, yang masih rapuh dan sering menangis menghadapi dunia. Termasuk kini, saat aku merasa berjalan hanya sendiri dan hampir tersandung batu jalanan yang kadang membuat kulit telapak kakiku terbuka...]
BICARA IPK B-)
August 23, 2006
Ini hari ketiga kuliah di semester V. Tingkat III saya sekarang, banyak yang berubah.
Zamannya TPB, tahap paling bahagia. Praktikum cuma satu dua, usia belum kepala dua, tidur belum perlu sampai jam dua, IP belum terancam dua, pacar bisa lebih dari dua—saking lowongnya.
Sekarang? Satu mata kuliah bisa diambil lebih dari dua kali untuk pendalaman [baca: ngulang, hehehe]. Ada dua angkatan yang siap sentausa menggantikan saya di TI. Teman-teman di jurusan lantas dikelompokkan menjadi dua.
Mahasiswa bebas masalah. IPK diatas tiga, cinta bahagia [dengan asisten pula], masih tingkat III sudah mencekoki diri dengan mata kuliah tingkat IV [dikelasnya dipuja-puja], kemana-mana melangkah dengan jidat yang udah distempel “masa depan cerah”. Orang yang satu kelompok praktikum dengannya juga ketularan bahagia. Hahaha di segala suasana.
Mahasiswa tidak bebas masalah [Tapi saya nggak lantas menyebutnya mahasiswa bermasalah loh]. Lulus TPB setelah menginjak tingkat III, pacar mulai tidak setia [karena jadwal kuliah sudah mulai tidak sama. Si dia berjalan keatas, yang ini mengulang ke bawah ]. Sudah tingkat IV masih mengambil kuliah tingkat II dan menyandang status baru– veteran], terancam lulus dengan IPK maksimal dua, lantas orang yang kebagian kelompok dengannya tidak pernah lupa menambah kegundahan hati dengan senyuman terpaksa: “Waa.. gw sekelompok sama elu ya? [Oh, Tuhan. Mengapa saya sekelompok dengannya? Kiamatlah dunia.. Huaaaaa… ]”
Saya sendiri, sudah mulai bisa meng-capture sebuah view, akan seperti apa saya nanti. Ini begini, ini begitu. Mindset saya sebagai seorang TI mulai bicara. Saya ‘sedikit’ bisa mengaplikasikan ilmu yang saya dapatkan, walaupun masih harus mencuri-curi ilmu dosen saya sendiri pada pekerjaan yang saya geluti sekarang. Tapi IPK saya, belum berbicara. Toh, masih ada waktu 2 tahun sampai saya menjadi sarjana. “Nah, ini yang nggak bener. Dua tahun buat apa? Kejar dari sekarang!”, seorang dosen mengingatkan.
Lantas, apakah muara semua ini hanya melulu bicara tentang IPK? Ah, saya lantas jadi malas menganggap IPK ini jadi sebuah masalah. Tidak ada yang perlu saya kejar. Buat stress saja. I don’t care. IPK kah Tuhan saya? Wes, maaf saja. Itu bukan yang utama. Tapi kalo lulus dengan IPK idaman, boleh juga denk… B-)
HEART JUST KNOWS…
August 9, 2006
Nggak tau mau menulis apa. Ini, ya ini jadinya.
Dua minggu terakhir, banyak sekali cerita baru dalam hidup saya. Kehilangan teman, kembalinya kisah lama, kerja baru di Lembang, kenaikan berat badan, wisudaan, resep masakan baru, perwalian online, ketemu temen lama, pertengkaran, SMS-SMS misterius, hingga menghilangnya seseorang. Saya nggak mengerti,apakah dia sengaja menghilang atau bagaimana. Sepi saja.
Tapi terlepas dari semuanya.. Lagi dan lagi, terimakasih untuk setiap hati yang ikut mewarnai hidup saya. Keluarga di PSIK [Maaf sekarang saya jarang main], penggemar-penggemar [Cieilah, maksud saya orang yang saya utangin B-) ], semuanya yang jadi tokoh utama maupun figuran dalam kisah saya. Hatur Nuhun…
Sangat banyak yang ingin diungkapkan, tak satupun yang keluar. Hanya hati yang tau. Heart just knows..
KONTRAS
July 6, 2006
PAPARAZZI Cafe, Bar, and Lounge
Plaza Indonesia
Jakarta, 05 Juli 2006
Temaram. Pendingin ruangan. Saya bingung harus berucap apa menghadapi bule disebelah. English saya masih terlalu belepotan untuk dipamerkan. Saya menemani kakak, bertemu rekan bisnisnya. Duduk bersama mereka di kursi sofa merah maroon berlapis beludru : kakak saya, seorang calon investor, programmer, IT Analyst, dan seorang pengangguran: saya. Begini nih, orang kalau sudah keseringan memakai logika. Seorang programmer yang duduk di hadapan saya tampak sangat menyebalkan. Dia bicara, kakak saya jawab, dan ditanggapi dengan dingin. ‘Uh, nggak ada sopan-sopannya sama sekali’, batin saya.
Di kursi sebelah saya, sepasang anak manusia yang tengah mengumbar hasrat. Bertegur bibir sejenak, yang menuai hasrat berikutnya. Hanya Adam-adam dipojok ruangan yang memandang dengan ‘terpaksa’. Terpaksa menahan gejolak di dalam sana.
Pandangan saya keluar. Hiruk pikuk maruk Jakarta di Bunderan HI. Terhenti pada sosok penjual nasi goreng. Bunyi penggorengan dan kuali besi yang tak beraturan, beradu dengan melodi musik jazz di telinga saya. Dua hal yang kontras. Letih dan keringat di wajahnya, dengan aroma parfum orang-orang disekitar saya. Dua hal yang kontras. Panas tubuhnya, debu jalanan, gas dari penggorengan, dan nyamannya AC tempat saya duduk. Dua hal yang kontras. Tak perlu sebotol Vodka atau Tequila untuk bisa menggantikan omset nasi gorengnya sepanjang malam ini. Dua atau tiga botol Corona atau Sex In The Catwalk sudah cukup. Dua hal yang kontras atau ironis? Macet jalanan, klakson Taksi, deru mobil, dengan ‘kosong’ dalam hati disini. Dua hal yang kontras. Tukang nasi goreng itu dengan saya, bukan dua hal yang kontras.
Untung lelaki calon investor itu yang membayar semua tagihan. Saya bisa sangat tidak rela. Tiba-tiba saja, saya segera ingin meninggalkan tempat ini.
DI STASIUN KERETA..
June 27, 2006
Kereta yang membawa saya menuju Jakarta akan tiba di Gambir pada pukul 14.15. Saya sudah akan tiba dan menunggu jemputan.
Menapaki tangga turun stasiun, seorang pria berusia 30an tersenyum ke arah saya. Tubuhnya kurus, mata sipit, kulit putih. Selangkah, lima langkah, pria tadi masih tersenyum-senyum ke arah saya. Saya balas senyum. Nggak ada maksud.
Jemputan saya baru akan tiba pukul 15an, karena yang menjemput saya harus menunggu keluar kantor yang terletak di belakang Gambir. Saya mencari-cari tempat duduk yang nyaman. Tadinya berencana duduk di Dunkin Donuts, tapi urung. Saya lebih tertarik dengan wanita-wanita muda mengenakan rok mini yang sepertinya menyita perhatian kaum Adam disana, sambil sesekali saya melihat-lihat tulisan di board yang sepertinya berisi jadwal kereta. Nggak ada yang menarik.
Om-om yang tadi senyum-senyum ke saya masih bolak balik, melintas didepan saya lebih lama. Kali ini, pandangannya lebih lama. Menelanjangi saya dengan pandangannya dari ujung tumit kaki hingga ujung rambut. Uuhhh..
Seorang sekuriti mendekati saya.
"Mau kemana Mbak?"
"Saya mau ke Pasar Minggu.." [Saya merasa nyaman sedikit. berusaha senyum]
"Kalau Pasar Minggu kesana.." [Nunjukin satu arah]
"Oh,, nggak. Saya nungguin jemputan"
"Oooohh… Pacarnya yah?"
[Saya nggak jawab. Karena mata saya menangkap sosok seorang teman kuliah. What a surprise? Orang Bdg Ketemu di Jakarta, gitu Loh.. Saya bertukar cerita sedikit dengannya, lalu ia berlalu]
"Mbak masih sekolah? Kelas berapa??"
[Apa tampang saya semuda itu??]
"Oh, nggak. Saya udah kuliah.." [Om-om yang tadi senyum-senyum masih sibuk memperhatikan saya dan memandangi dari kejauhan. Gosh!! Freaky man..]
"Kuliah dimana?" [Saya menunjukkan map bertulis 'Seminar Financial Enginnering. Himpunan Mahasiswa Teknik Industri ITB'].
"ooooohh.." [Dia manggut-manggut..]
"Udah tingkat berapa?"
"Saya tingkat 3.."
"Sebentar lagi donk??"
"Eh, iya.. insya Allah.." [Saya menangkap bayangan Om-Om yang tadi lagi. Uh, what's on his mind? My 46 kilo's body?? ]
"Siap nikah nggak??" [Hah, what sort of question is that??]
"Saya sih siap-siap aja.. Tapi saya kan masih harus kerja dulu.."
"Loh, kerja belakangan aja. Itu tadi pacarnya?? " [Maksudnya temen saya yg tadi]
"Bukan"
"Kalau pacarnya bilang aja Mbak.." [agak maksa dan jealous]
"Kalau saya bilang nggak ya nggak"
"Duh.. Mbak koq manis banget.." [Pandangannya agak aneh, freaky!!]
[Om-om yang tadi masih lewat lewit, cengar cengir, nggak jelas. Mulai dengan tatapan genitnya, plus mulai menyentuh lehernya. Maksudnya apa dah??]
{Oooouww. Maannn!!! }
"BUNDA !!!” Yang saya nantikan akhirnya datang.
{It’s all over then.. Thank God}
INSPIRASI
June 27, 2006
Langit Jakarta siang ini. Sebuah pesawat melintas dalam view 30 derajat dari posisi saya ‘golek golek‘ di lantai satu rumah saya [tepatnya, rumah Keluargaku]. ‘Golek golek’, kalau saya tafsirkan dengan bahasa sendiri, artinya: berleha-leha dengan posisi PW, ngapain pun itu kerjaannya. Sementara, kalo dalam Bahasa Jawa, ‘golek’=cari. Terus, kalau ‘Wayang Golek’ berarti ‘Wayang cari’? [Yang ini bukan urusan saya].
Sebenarnya, saya sedang cari inspirasi dan bayangan dari seseorang yang dirindukan, untuk dituangkan keatas sebuah kanvas. Kanvas saya adalah sehelai kertas A4 dilapisi majalah ‘MainanAnakLaki-laki’ Edisi Kedua, June 2006.
Hmm. Disebelah, sebuah pohon Sawo sedang mengulas senyum, seperti berkata "Kamu golek goleknya di tubuh saya saja…." [Sekedar informasi, rumah saya berada di Jalan Sawo Manila. Kalau misalnya nama jalannya Pisang Ambon, tidak tertutup kemungkinan Pohon yang tumbuh disebelah rumah saya sekarang adalah pohon Pisang [Tapi sekali lagi, ini juga bukan urusan saya]]. Mungkin juga sih, saya ganti posisi ‘golek golek’ saya ke Pohon Sawo itu. Salah satu cabang dahan pohonnya yang cukup kokoh memang merambat ke tembok rumah saya. Tapi saya khawatir, kalau misalnya saya berganti posisi ke dahan pohon [dahannya lumayan asik] akan ada ‘status disamakan‘ antara saya dengan mahluk yang disebut-sebut dalam Teori Evolusi Darwin.
Ning.. Ning.. Ning…
Ini adalah lonceng makan siang yang bersumber dari dalam perut saya. Saya turun dulu. Cari inspirasi di meja makan saja. Ini dia. Mahluk hijau, keriting, kurus, basah. Saya lupa namanya. Ntar aja mikirnya. Setelah kenyang.. Aha. Itu tadi namanya kang kung [Nama yang tidak representatif untuk performanya di meja makan].
Selesai makan. Mrebahkan diri lagi. Golek golek dengan posisi terlentang, kaki kanan diangkat ke atas, kaki kiri menopang kaki kanan. Nnnahh !!! Ini baru posisi yang tepat untuk cari inspirasi (ato tidur???) B-))
DON’T ANGRY BE HAPPY ;D
June 21, 2006
Sudah menginjak liburan sekalipun, masih banyak saja masalah yang harus diselesaikan, yang menguras tenaga dan pikiran. Tetap saja harus ’stay’ di Bdg. Ini terutama menyerang mahasiswa ITB. How to deal with it?
1. Ada nilai T.
Anda harus menemui dosen yang bersangkutan. Mencari nomer HPnya, membuat janji, menunggu berjam-jam dikantornya sekalian menunggunya makan siang dan solat (pastinya Anda nggak ikutan makan). Lalu, setelah Anda menunggu lama, dengan entengnya beliau menyuruh Anda untuk datang lusa saja, atau tanggal sekian. Dengan pandangan dan sikap judgemental, dosen ini juga menetapkan batas perubahan nilai untuk nilai T. Bagus bukan? Padahal Anda mendapatkan nilai T karena berkas ujian/ makalah Anda hilang di tangannya (mungkin TU nya juga). Saya sudah mengalami ini. Dan endingnya, saya hanya bisa pasrah. Karena memang si dosen ini cuma bilang "Tunggu saja nilainya keluar". Ya sudahlah. Mungkin saya memang jodoh. Jodoh sama ketidakberuntungan. (Karena: nilai saya sudah dibatasi tidak mungkin A dan karena saya harus ketemu dia). Walau mungkin hasilnya jelek, saya cuma bisa membangun suasana hati. Ceria aja. Bakal lebih enak.
2. Nilai-nilai tidak sesuai harapan
Kalo yang ini sudah biasa sekali. Anda sudah membanting tulang 6 bulan (Hitungannya satu semester), mengerjakan TP praktikum dan tugas-tugas (walaupun 50 % dapet master, 30 % nyontek, dan 20 % usaha sendiri ), praktikum yang menyita waktu kencan Anda, lalu Anda dihargai hanya dengan nilai E. Tidak ada bedanya dengan orang yang tidak pernah ngumpulin tugas, nggak pernah ikut ujian, bahkan nggak pernah dateng sekalipun. It hurts. Much. Trus, gimana? Kalo itu saya, pikirin INI. INI="What’s Next?". Toh saya nggak harus berdiam duka. Mikir yang terbaik kedepan sama strategi jitu sekalian, biar nggak kejadian lagi. Itu sudah cukup.
3. Udah liburan, malah putus. Gimanapun ceritanya, (Anda meninggalkan pasangan atau pasangan meninggalkan Anda), namanya juga putus. Broken heart. Pastinya. Tapi saya yakin. Semua orang pasti punya "soundtrack of life" sendiri-sendiri. Kenapa nggak diputer aja? Saya juga punya. Lagu ‘I Believe I Can Fly’, ‘Maju Tak Gentar’ adalah lagu-lagu saya sejak zaman jahiliyah hingga perjuangan ‘45.It’s so me. Hehe..
Terakhir, saya ingin Anda membuka layar TV. Akan ada sangat banyak hal yang membuat Anda bersyukur hanya dengan masalah tadi. Foolish your self. Berfikirlah positif, walau itu membohongi diri Anda sendiri. Gimanapun chemistry Anda. Semua hal berawal dari pikiran.
Maaf kalau kata-kata saya banyak yang ngawur (banyak). Gimana dunk? Saya juga lagi stuck banget. Ntar lagi saya pulang ke Jakarta naek kreta, mudah-mudahan di sebelah saya seorang cowok cakep, muda, dan tidak ompong. Tentunya, saya tidak akan merencanakan untuk pura-pura tidur dan bersandar di dadanya. Hehehe..
Met liburan. (Jangan lupa senyum, smile is one of the most important do’s things everyday) ;D
..BERCINTA..
June 1, 2006
Aku baru akan membalikkan tubuh saat mendapatimu mendekatiku. Senyum di wajahmu, oh!! Tolong. Jangan senyum padaku atau aku akan semakin tergila-gila padamu.
Perlahan, tubuhmu mendekat. Mulai menyentuhku. Memeluk pinggangku dari belakang. Kamu sendiri pernah bilang, kamu paling suka dipeluk dari belakang. Dan aku tau, kamu melakukannya padaku, karena kamu mau aku melakukan hal yang sama.
Lima menit. Lima belas menit. Engkau masih diam tak berbahasa, namun raga ini bisa menangkap hasrat dan rengkuhanmu, berbaur dalam asa dan deru-deru nafas. Matamu itu berbicara. Kamu menginginkan sesuatu. Perlahan mendekatiku, merengkuh pinggangku lebih dalam, memacu degup jantungku yang iramanya mulai tak karuan.
Hmm.. aku jua yang terikut
dalam irama tubuhmu. Kita sudah sangat dekat. Sangat dekat, hingga aku tak kuasa mengelak saat tubuhmu memojokkanku lebih ke dalam, ke sudut terpojok dimana aku tak bisa dengan leluasa merebahkan dan menikmati posisi tubuhku, seperti kemarin, saat aku benar-benar penat.
Kamu merindukanku. Aku tau itu. Aku juga merindukanmu. Bukan karena waktu tak mengizinkan tubuh kita untuk bertegur sapa sejak tiga hari yang lalu. Tapi, seperti kemarin dan juga sebelumnya, aku memang merindukanmu dan sudah mengucapkannya ratusan kali lewat kata-kata yang sebenarnya kurang representatif untuk kerinduan itu.
Tanganmu yang tadi merengkuh pinggangku, mulai menelusuri daerah lain. Tubuhku. Yang meliuk seiring raibnya helaian kain yang menutupi tubuhku dan tubuhmu. Ahh.. Nikmatnya. Kepasrahanku bertarung dengan keperkasaanmu. Tak lepas ku memandang matamu, sepasang dunia yang selalu mabukkanku. Engkau mengantarku pada satu dunia, rasa yang terasa aneh namun tak pernah ingin aku lepaskan. Lagi dan lagi, kita berpagut dalam deru yang entah disebut apa. Kita bercinta. Tiada lagi yang lebih indah dari malam ini..
Aahhh.. Semuanya terasa jadi begitu singkat saat sesuatu di sebelah bantal tidurku bergetar. Alarm HP ku. Wuaaa… Sudah pagi. Sial, aku MIMPI BERCINTA… 8-(
MAAF UNTUK PARA PRIA
April 19, 2006
Para lelaki biasa datang dan pergi. Semuanya terasa biasa. Ritme yang mereka ciptakan sendiri. Kemudian, adalah wanita — mahluk indah yang kadang tak mengerti bagaimana menunjukkan dan hargai keindahan itu– terbangun dari buaian,, saat mendapati dirinya terbangun dan sang lelakinya telah berlalu…
Entah kenapa, hari ini gw begitu pesimis tentang cinta. Lima huruf yang selama ini menemani perjalanan hidup. –Kalo bisa disebut demikian–.
Berawal dari kejadian tadi malam.. Seseorang yang telah lama berlalu, tiba-tiba hadir mengusik kesendirian. Sepatutnya, nggak ada yang perlu dipermasalahkan. Toh, gw udah ng ada perasaan sama dia. Tapi kadang semua terjadi begitu saja. Kadang, sesuatu terjadi diluar keinginan, lu ng bisa berkata apa-apa, sampe lu sadar, semuanya udah terlanjur terjadi.
Lantas, gw jadi mikir. Seorang cowok memang seringkali berbuat seenaknya. Datang dan pergi saat ada 5 huruf yang membuat mereka mendatangi wanitanya lagi. B U T U H !! Dateng kalo ada kebutuhan dan dia ngerasa cuma elo yang bisa menuhin kebutuhannya. Oke. Gw ng bisa nyamaratin setIap orang..
Bisa aja, satu saat, kalo misal apa yang dia pengen dari elo udah didapet, liat aj apa yang ada kemudian. Bahkan, pada satu perbincangan di sore senja, salah seorang temen cowok gw udah ngakuinnya. Mereka bilang, dan ngaku, pada dasarnya, ada unsur ‘memanfaatkan’ pada diri cowok terhadap cewenya. Beberapa orang malah ngaku, pada saat yang bersamaan mereka bisa mencintai beberapa cewek sekaligus. Cowok lebih dominan logikanya. Entar, kalo misal mereka harus memilih, mereka pasti pake pertimbangan2, salah satunya :siapa yg paling dibutuhin?? Cuman, kadang kata "butuh" ng ada bedanya sama manfaatin buat mereka..
Ouw.. !! Entah kenapa, gw jadi mikirin ini seharian. Gw jadi pesimis gini. Kenapa hati gw ng bicara? Kenapa dia diem aja?
Kenapa ng ada pembelaan di dalam sana, yang bilang, "Elo salah chi. Itu perasaan elo aja." Gw pengen banget. Sumpah gw pengen banget bisa membuang perasaan aneh2 ini. Gw ngerasa kaya mengambang. Kaya kesel banget tp ng tau harus ngapain. Karena yang ada sekarang, cowok yg kemaren dateng ke gw udah ng keliatan batang hidungnya. Dia dateng kemaren,, karena dia butuh gw. So, dia udah dapetin itu dan waktunya untuk berlalu..
Saturday Nite Once More
April 1, 2006
Sabtu itu,,
Kamu datang k kosanku. Secangkir Good Day Carribean Nut sepertinya menarik perhatianmu. Aku keluar kamar. Aku memanggilmu.
Keluar menuju tembok kecil di samping kosanku yang mengarah pada Dago Pakar.
Sejuk kurasa. Kombinasi udara sore itu, kesunyian sekeliling, dan kincir angin di atas pohon. Asiknya. Menenggak tegukan demi tegukan kopi yang terasa demikian nikmatnya. Semuanya.. Damai.. Karena ada kamu.
A Moment To Remember..
Thanks for Yesterday hb.. (^^)