ADAM-ku
December 2, 2006
Sayang, taukah kamu.. Hari ini aku capek sekali. Membantu sebuah acara, menyumbang tenaga untuk menebus sesuatu yang telah lama kujanjikan pada seseorang. Senin aku ada ujian, besok masih harus kerja lagi, tapi entah kenapa aku begitu semangat menjalani. Aku tau masih ada kehangatan buatku nanti. Yang walau jika sekejap saja kuhabiskan denganmu, kan hilang semua lelah dan gundah.
10 DAYS, THANKS TO YOU…
December 1, 2006
Sakit
kemarin, memaksa saya cuma bisa berbaring dan menatap langit-langit kamar.
Agenda harian hanya makan, minum jus, minum obat, menerima SMS “cepet sembuh
ya”, dan menonton TV dengan posisi tidak sempurna. Sakit! Iya, sakit! Banyak
yang terlewatkan. Kuliah, Praktikum PTI, Praktikum BasDat, Kuis OR, tugas-tugas
dsb. Sepuluh hari penuh penantian.
Karena
sudah terlalu sering mimpi sembuh dari sakit dan kecewa di pagi hari karena
terbangun masih sakit, saya paksakan diri joging dalam kamar. Lompat-lompat
sambil ngakak didepan cermin, teriak “aku harus sembuh”. Yang ada, malah
denyut-denyut sakit itu semakin terasa, kepala berputar-putar hingga terbaring
lagi tak berdaya.
Tapi,
sungguh terimakasih untuk ‘engkau-engkau’ yang ada disana. [Tidak mau
menyebutnya ‘kamu-kamu’ atau ‘elu-elu’, karena kata-kata itu tidak
representatif menunjukkan berharganya kalian buatku]. Yang setia menjaga dan
menemani, yang membelikan obat sambil nginstalin Update-an McAfee, yang
membawakan sarapan sambil numpang mandi, yang mau buang banyak pulsa untuk tau
keadaan saya, yang ngeledekin saya sudah jadi gendut karena makan dan berbaring
terus.
Hm..
kalau sudah begini, baru terasa nikmatnya sehat. Sungguh saya jadi dungu dengan
pertanyaan kepada diri sendiri, “Selama
ini sehat dipakai buat apa?”
PENDIDIKAN SEBAGAI MESIN
November 6, 2006
Hmm.. omongan kali ini mulai merembet ke pendidikan, menyambung lidah Pak Gede Raka, dosen Manajemen Inovasi idola saya. Meneropong pendidikan Indonesia dewasa ini. Pendidikan dengan mesin? Analoginya seperti ini. Pendidikan pada hakekatnya punya tujuan (perlukah saya tuangkan disini?) Jika pendidikan kita ibaratkan sebagai mesin, maka untuk menjalankan mesin, kita perlu menekan tombol-tombol pada mesin dan ia pun akan bekerja. Apakah setelah tombol ditekan, tugas kita selesai? Retorika buat logika Anda.
“We don’t do education, we do training”, katanya.
Sejak kecil kita digenjot dengan all about damn contextual education. Yang mengantarkan kuliah atau pelajaran sekolah dengan kalimat standar: pen-di-di-kan-a-da-lah-ti-tik-du-a-bla-bla-bla. Belum lagi nominal nominal –all of the fucking money things- yang setia menjadi pelengkap atau keterangan di setiap kalimat berbau pendidikan. Kuliah sekian juta, masuk SMU negeri sekian duit. Mahalnya pendidikan, tidak diimbangi dengan hakikat pendidikan itu sendiri.
Tidak heran, korupsi paling parah malah terjadi di DepAg. What’s this? Failure of education, yang mencetak orang-orang dengan Lot of Brain, No Heart. Pendidikan harusnya bukan sekedar cuap-cuap cacip cacip proses mahal yang kaku. Dalam komunitas pendidikan, system perintah dan tunggu-hasil saja belum cukup, seperti apa yang kita lakukan pada mesin.
Ada yang disebut ‘proses’, termasuk di dalamnya interaksi elemen-elemen pendidikan tersebut dengan lingkungan (bukan sekedar siapa tetangga Anda), tata nilai (bukan sekedar tata bahasa, tata busana atau tata-tata lainnya), budaya (bukan buaya), struktur(bukan sekedar pengetahuan struktur-nya TL atau struktur jembatan beton-nya Sipil), dan banyak hal lain yang harusnya jika diterapkan dengan baik tidak akan lagi memproduksi robot-robot dengan mental-machine model. Sebagaimana kita tau, mesin tidak butuh interaksi dengan lingkungan, dan kita bukan bagiannya kan?
Jadi, mari kita belajar melihat value-value lain yang bertebaran di sekitar kita. Semua bisa jadi pelajaran. Mungkin dengan itu, selain kita akan lebih berjiwa “tidak mesin”, kita juga belajar membelajarkan diri sendiri. (No hard feeling for HMM ya. Objek omongan kita beda ya? ;p)
[Thanks to PSIK ITB, sekolah hidup-ku..]
ANALOGI YANG TIDAK BERIRISAN
November 6, 2006
Ini cerita di penghujung Oktober. Tiba di Gambir, Kakak saya menjemput dengan.. Oho! Pria Chinese disebelahnya tersenyum ke arah saya dan adik saya. Sebagai seorang berIQ antara 100 dan 200, dan masih ingat kalimat “Life’s short and U have to make it funny” dalam 5 detik, saya membalas senyuman pria tadi (jangan salahkan saya untuk simpangan baku 100 dan tidak memberikan bocoran IQ saya sebenarnya). “Hai, hellouww..!”, tanpa sedikitpun ketidaktulusan didalamnya. Anda bisa pastikan itu.
Tampangnya saja baru disetor hari ini. Bagaimana mungkin saya lancang berucap, “Hello Sista, newcomer more?” Tunggu dulu. Talk about it later. Saya tidak akan menyuguhi Anda sebuah cerita prematur tentangnya.
Hihihihohoho. Life’s short and U have to make it funny, mans are stupid(1). (Berikan saya skor 1-0 untuk sentimental Anda pada kalimat terakhir), petuah wasiat seseorang untuk saya 3 bulan lalu, terakhir kali ke Jakarta. Pria kesekian itu hadir menggantikan pria sebelumnya yang kesekian. (Untuk mengerti kalimat tadi, Anda tidak harus jenius. Jangan membayangkan sesuatu yang complicated seperti merancang RWL(2) berdasarkan antropometri). Memandang hidup, tidak perlu memicingkan mata atau melakukan akomodasi maksimum seperti saat Anda menghadapi slide didepan kelas sementara Anda duduk di sudut belakang. Jika bisa dibuat mudah, kenapa disusahin? Kalau masih ada space didepan, kenapa harus duduk dibelakang?
Analogi yang alot( tidak nyambung) untuk cerita saya: Kalau sudah putus, ngapain diungkit-ungkit lagi? Kalau sudah lama break, tidak berhubungan, ngapain berpelukan lagi? Ah, bukan itu esensinya. Kita kan manusia dewasa (kepala [sudah]2). Tarik ulur sejarah Linux dan Windows. Linux dirasa lebih susah penggunaannya karena kita sudah terbiasa dengan tampilan Windows yang notabene digunakan lebih dulu oleh orang awam. Atau Internet Explorer dengan Mozilla Firefox. Prefer yang lebih baik, sudah sifat manusia bukan?
Baiklah, sebelum Anda semakin bingung dengan ngalor ngidul tak berujung ini, saya kasih konklusi versi saya:
1. Pacaran, putus, nyambung, putus lagi, who cares? None of your business, right? People learn from mistakes. Jika suatu saat Internet Explorer lebih baik dari Mozilla/Opera, bukanlah hal yang tidak mungkin kita akan kembali prefer Internet Explorer.
2. Kalau saya mau pacaran kemarin sama anak TL, sekarang sama anak TI, besok sama anak GEA, lusa sama anak MESIN, dan menikah sama anak IF, dan saya katakan kalau saya memang butuh pria (berikan saya skor 1-1 untuk itu), trus kenapa? Bukankah kita memang selalu mencari yang lebih baik? I’m telling you now, this is naturally IE (3).
3. TAPI, perlu Anda ingat, kalau pacaran dibuat selalu mencari yang lebih baik, tidak akan ada ujungnya. Karena, kembali lagi ke realita: tidak ada orang yang sempurna. Justru setiap hubungan memang tujuannya saling melengkapi. (Melaksanakannya tidak semudah mengucapkan kalimat tadi, tentunya).
Analogi lain dalam membuat pilihan. Saat Anda memutuskan untuk menikmati unagi mori sushi yang tampak aneh, Anda telah memutuskan sesuatu yang besar daripada sekedar memandangnya, menahan air liur antara kepingin dan jijik, lalu pulang dan menyimpan sebuah misteri tentang sebuah sushi yang tak terpecahkan hingga akhir hayat dan mati penasaran. Ah, mungkin saya menghadirkannya dengan kebengisan tiada dua, namun percayalah, hidup tidak sepelik itu.
Catatan kaki:
1. Hidup itu nggak lama, dibuat seneng aja. Cowo-cowo itu bego koq..
2. RWL=Recommended Weight Limit. Beban maksimum yang masih bisa dihandle oleh pekerja normal supaya nggak pegel-pegel. Ngitungnya pake antropometri.
3. Prinsipnya orang IE(Industrial Engineering): Nggak ada yang terbaik, tapi pasti selalu ada yang lebih baik (find a better way).
BASUH LUKA ITU…
October 23, 2006
Jika untuk yang kesekian kali Lebaran masih mengunjungi kita, demikian juga kata ‘maaf’ akan selalu jadi bagian yang warnai kala itu. Untuk sebuah kenangan, banyak cerita, yang mungkin masih menyesakkan dada Anda—orang-orang yang saya cintai—maafkanlah diri ini. 
……Mengukir kisah denganmu, sungguh satu keindahan. Kita pernah sangat menikmati, tertawa, berjalan beriringan dan berpegangan tangan didalamnya. Jika kemudian ada warna lain yang tidak kita inginkan hadir, biarlah demikian adanya untuk kita bingkai bersama. Sekarang, aku basuh luka hati itu. Mungkin masih perih, namun tiada cara selain membuatnya suci dan membukanya kembali. Susah, senang, tawa, bahagia, tangis, hal kecil (mungkin) yang mewarnai ruang-ruang usia. SEMUA, kan jadi kenangan yang tak akan terulang, hanya bersamamu, bersama kalian…
AKAN BERAKHIR
October 19, 2006
Serasa telah tiba di penghujung, walau belum adanya.
Masih mencari, menunggu pagi,
Lagi…
(Ramadhan kan segera berakhir.
Pertanyaannya: “sudah cukup bekalkah kita untuk melepasnya pergi dan biarkannya
berakhir?”)
GELAP
October 19, 2006
Rabu, 18 Oktober 2006, pukul 3:00 dinihari
Berteman peletak-pelatuk adik saya yang lagi bersantap sahur. Dengan sempurna gigi-gigi kecilnya membabat habis tulang ayam goreng crispy yang dibeli seharga 2000-an. Saya masih menggeluti soal-soal Operation Research (OR) buat UTS siangnya.
“Kamu nggak saur ci?”, tanyanya.
Masih dengan irama mengunyah yang mirip Lagu ‘Saur Dong Saur’ keliling yang membangunkan saya setiap sahur. Halah, halah, gimana ceritanya? Buat orang-orang yang tinggal di lingkungan sekitar kos saya, mungkin sudah pada hafal liriknya. Orang-orang yang mungkin-sangat-pantas- menjadi finalis audisi paduan suara (hayo, stasiun TV mana yang terinspirasi? :O)
Ibu RW, Bapak RW, sahur.. (saur dong sauuuurrrrr)
Ibu Bapak, dan ABG, sahur.. (saur dong sauurrrrr)
Kalau enggak saur.. Bisa keburu imsak..
(saur dong sauuuurrrr)
(Coba kalau OR disajikan seperti ini. Rumus sampe yang sekutil mukmin pun saya pasti inget ;D)
Rabu, 18 Oktober 2006 pukul 6:00
Dengan terburu-buru saya menuju kamar mandi. Masih tidak percaya, “ini teh beneran udah jam 6?” Jam 7.30 ada responsi+tes awal praktikum PTI. Telat = pengurangan nilai. Buru-buru mandi. Jebur-jebur jemuuuurrrrr…!!!! Hyah, segarnya. Kayak udah nggak mandi 5 bulan saja!
Rabu, 18 Oktober 2006 pukul 7:05
Selesai ngutak-atik lemari dan dapat satu kemeja warna biru abu-abu. Yuph! It’s ‘ngampus’ time! But first of all, ngangkot duuulu ni sodara-sodara.. Baca modul di angkot sampai pusing sing!
Rabu, 18 Oktober 2006 pukul 8:54
Habis responsi. Tes awal lumayan sukses. Semoga ntar siang UTS OR juga. Na…na..naaaaaa…. Menuju kos buat review bahan sebentar.
Rabu, 18 Oktober 2006 pukul 11:35
Masih bingung memandangi satu Bab ‘MARKOV CHAIN’. Mata sampe berair melototin soal satu nggak beres-beres. Mungkin harusnya saya complain ke Pak Markov, ngapain sih iseng masukin teorinya ke kurikulum TI?
(No hard feeling Pak Markov! Percayalah, saya salah seorang pengagum teori Anda yang hingga-mencapai-usia-setua-ini-belum-bisa-juga-mengerti-teori-Anda itu. Entahlah, mungkin elemen teori dan simbol-simbol yang Anda gunakan saat menyusun teori ini demikian peliknya bagi orang ber ’IQ jongkok’ seperti saya. Ngomong-ngomong Pak Markov ini orang mana toh? Orang Sunda? Kalo saya bilang “susah pisan euy!” berarti ngerti dong? Ato wong Jowo?)
Weleh, pikiran udah ngalor ngidul entah kemana. "Apaan sih ci? Lu tu ye! Dasar orang ngga punya sense of knowledge!" My heart said so. Mengapa saya selalu meng-kambinghitam-kan materi ujian? Saya salah, nggak banyak latihan soal. Selama ini cuma melototin slide dan kumis pak dosen OR lucu yang suka ngambil contoh: “manusia-lahir-remaja-kawin-cerai-duda-tua-kawin lagi-tua-mati” itu sebagai contoh persoalan pas ngajar. Ditambah lagi modal saya cuma hand-out fotokopian burem, hurufnya banyak yang hilang.
Rabu, 18 Oktober 2006 pukul 12:45
Soal dibagikan. Pandangan dari atas ke bawah:
1. Nilai 30 % (yah, kayanya yang ini bisa.. aman..)
2. Nilai 30 % (yang ini kayanya pernah dibahas.. udah ada contohnya, cuma ganti logika)
3. Nilai 40 % (MARKOV CHAIN : hah, keluar juga ni soal? Pake soal a) b) c) d) e) lagi?) Damn! I’ll kick u then, Pak Markov, I swear!
Rabu, 18 Oktober 2006 pukul 13:45
No 1 sudah selesai. No 2, hmm.. gimana caranya ini? Perasaan yang kemaren dibeginiin udah kelar, koq nggak bisa juga? Soal No 3? Arrrrgggghhhh…
Rabu, 18 Oktober 2006 pukul 14:45
Ujian berakhir. Menuju kos. GELAPNYA DUNIA…
Lagi dalam angkot, tiba-tiba..
SMS received:
Tadi gimana? Bisa? Gw ngga bisa beneran. Gw positip ngulang taun depan…
+828562005***
(dunia terang kembali.. saya punya teman untuk membabat Pak Markov pada episode ujian selanjutnya..)
For your note: cerita ini diceritakan dengan bahasa yang sebenar-benarnya, tanpa intimidasi, ancaman, dan paksaan dari pihak manapun. Kesamaan dan kemiripan nama, lokasi, merupakan benar adanya dan bukan suatu fiktif belaka, namun disarankan untuk tidak meniru atau menyontek cerita saya ini, Hohoho…
Selamat menikmati dan menjalankan ibadah puasa-yang-tinggal-beberapa-hari ini… :-))))
Ke “WAROENG DAWEUNG”
September 23, 2006
Pernah ke WAROENG DAWEUNG? Minggu lalu, Dio, Usher, Sawung, dan saya [the one and only beautiful lady] diculik kesana oleh Erik habis praktikum PTI. Ups, ini tidak ada irisannya dengan cerita penculikan anak-anak TePeBe ITeBe yang sedang marak yah. Bukan sama sekali. [Piss buat para penculik (^_^)v]

Terletak di ujung dunia [kalau saya boleh menyebut demikian, berhubung kemampuan saya dalam mengingat nama, lokasi, kecamatan, suatu tempat Pentium1 banget], tempat ini bisa dicapai setelah mendaki sebuah gunung di Padasuka, Cimohay [Cimahi versi saya ;p] setelah terlebih dahulu [harus] melewati perkampungan, bukit dan lembah, terjal dan curam yang cukup memacu adrenalin—kalau kesananya pake mobil HardTop atau Rocky, atau mobil mountclimber sejenis.
Dari puncak, kita bisa menikmati View kota Bandung. Apalagi kalau malam, lengkap dengan kelap-kelip lampu aneka warna. Seperti View Singapura, atau Danau Toba saat malam. Pas sekali dengan cakrawala nan temaram. Menyatu di kaki langit. Sepanjang mata memandang, ya View nya kota Bandung. So sophisticated. Ya.. sedikit mirip The Peak, The View, WaLe, atau Kampung Daun. Bedanya, mungkin sensasi setelah sampai di WAROENG DAWEUNG lebih terasa, karena medan yang dilewati cukup sulit, serasa menaklukkan gunung. (Halah, halah.. kegemaran saya memakai kata “sensasi”, “gunung”, dan “takluk” keluar lagi.)
Intinya: tempatnya E.K.S.O.T.I.S. Makanan enak, viewnya asyik. Tapi kalau pesan makanan atau minuman, harus secepatnya di’masukin ke perut’. Soale dingin euy! Makanya, bawa jaket juga. Yang tebal, jangan yang topless atau backless atau bottomless. [Hwihihi. Kalau bottomless, itu sepertinya rancangan saya sendiri ;p]
Biarpun di perjalanan pulang mobil sempat mogok, s-a-y-a s-e-n-a-n-g. Apalagi topik ‘nungging’-nya teman-teman saya yang jelek-jelek itu benar-benar vulgar mengocok perut. Ahahaha hihihi… [Guys, you were damn nasty and Thank you!] Kalau ada yang stress, saya mendukung untuk pergi kesana. Apalagi kalau ‘ngajak saya. Hehehe.. Yang paling bawah, photographernya mao ikutan mejeng =]p.. Siapa yang mau ikut sama ‘beliau’? Hehehe..
BERLALU..
September 10, 2006
Dua minggu terakhir, tepatnya setelah matahari berkata: ia masih terbit di Timur dan membawa hari baru.
Ketika kemudian saya sadar telah kehilangan sesuatu yang mungkin tak akan kembali, saya ikhlas berterimakasih untuk semua. Ingin berteriak penuh harap. Membuang sesal dan membiarkannya tergilas kereta yang membawa saya menuju Jakarta. Bosan menunggu telefon, bosan menunggu jawaban SMS, bosan dicueki dan meminta maaf. Meng-amputasi bagian otak saya yang masih berfikir tentangnya. Kali ini, mencoba mengalihkan pandangan ke sudut lain yang selama ini temaram.
Berharap masih bisa membahagiakan orang-orang yang berada di sekeliling saya..
“Adikku, mulai nanti malam kita makan bareng ya… Kakak nggak akan makan diluar lagi..”
TANPA JUDUL
September 6, 2006
Mereka memasuki angkot. Ya, mereka. Pemain ganda campuran yang menyusul saya memasuki angkot ungu jurusan Cisitu, yang akan membawa saya menuju kos setelah seharian mondar-mandir di kampus nggak jelas juntrungan.
Seorang pria, seorang wanita. Duduk di hadapan saya dengan selamat sentausa. Si wanita pake jilbab. Prianya, biasa saja [maksud saya, prianya nggak ikutan pake jilbab ].
Entah sudah daritadi atau darimana, mereka [ehm!] berpegangan tangan terus. Saling meremas [tangan]. Dan… Welcome move nya adalah: Wanita yang pakai jilbab itu, mengusap-usap tangan kanan pasangannya, menciumnya, lalu menggigitnya pelan. Pria itu, berteriak pelan juga. Berbisik, tepatnya. Menyambut ‘kenakalan’ pacarnya dengan cubitan kecil dipinggang. Giliran si wanita yang teriak sekarang. Lalu saling bersandar. Tubuh keduanya sangat lekat. “Jiwa yang sama-sama nakal”, batin saya.
Terlepas dari status mereka pacaran atau tunangan atau selingkuhan atau apalah, saya rasa ITB masih punya banyak pilihan tempat buat pacaran, kalo memang tujuannya itu. Yang jauh lebih nyaman dan ‘tidak mengganggu kenyamanan orang’. Di perpustakaan, di taman Ganesha, di pojokan Salman. Terbuka buat semua orang. Dari yang terancam DO sampai yang asisten dosen. Dari yang ngomongnya pakai kata-kata mesum sampai assalamualaikum. Dari yang mau baik-baikan sampai nakal-nakalan. Ya nggak?
Hmm.. setidaknya ini pemandangan yang menghasilkan output, “Iman letaknya di hati, bukan di kepala”. [Kepala siapa? Jangan pura-pura tulalit ya.. Lihat paragraph kedua baris kedua]
Sepanjang perjalanan pulang, saya jadi teringat dengan kejadian beberapa bulan lalu. Saya ikut dalam rombongan danus sebuah acara TI ke Jakarta. Moment dimana saya menemukan sebuah gank [selama ini saya sering kagum dengan icon-icon kekompakan mereka] yang membicarakan keburukan/privacy anggota gank lainnya. Di hadapan saya dan anak-anak lain yang notabene bukan anggota gank mereka. Vulgar, tanpa filter.
Lantas, saya jadi berfikir. Apa sih, semua ini?
Sekelompok orang yang takut dianggap tidak eksis, lantas mengatasnamakan dirinya sebagai bagian dari “sesuatu” sebagai tameng? Yang takut kehilangan teman dan kawan nongkrong? Yang pakai jilbab tapi hatinya nggak dijilbabin, yang jadi anggota gank ini itu dan mendeklarasikan kekompakan kemana-mana tapi nol kosong? Nggak ada masalah sih, sama orang-orang seperti itu. Kasihan saja.
Untung my Cisitu Road City nggak macet. Kalau tidak, dosa saya bisa bertambah banyak. Ngomongin keburukan orang, mengumpat dalam hati, dan yang paling buruk: mengobralnya di blog ini. Maafkan saya ya, Tuhan… Makanya saya belom pantes nih, pake jilbab…



