Sssstt.. Selingkuh Nih Yee!
March 22, 2007
Pernah mencoba selingkuh? Atau pernah selingkuh, tepatnya? Jika saya melihat film-film atau novel-novel sekarang, banyak sekali yang mengangkat tema ini. Ambil saja contoh : ”Jomblo”, “Pesan dari surga”, esensi utamanya malah tentang selingkuh, jauh menjiwai film itu sendiri dibanding judulnya. Atau “Rumor Has It”, “Sex And The City”, dan “The Truth Abot Love”
Dulu, saya masih berpegang pada asumsi : selingkuh itu cuma pelampiasan perasaan saat kita tidak menemukan sesuatu yang kita butuhkan dari seseorang, lantas kita akan berusaha mencari pemenuhan kebutuhan tersebut dari orang lain. Entah kenapa, lantas neuron otak saya lantas menganalogikannya dengan Teori Hierarki Kebutuhan Maslow. Saat kebutuhan dasar kita sudah terpenuhi, maka kita akan berusaha untuk mencari pemuasan atas kebutuhan yang lebih tinggi lagi levelnya. Dalam memenuhi kebutuhan tersebut, manusia melakukan berbagai macam cara. Kecenderungan satu orang untuk mencari kepuasan akan berbeda namun juga bisa sama dengan orang lain, tergantung sifat dan nilai-nilai individu yang membangun kepribadian orang tersebut.
Yah, pada dasarnya selingkuh juga merupakan salah satu pemenuhan kebutuhan buat saya, saya menganggapnya manusiawi banget. Tapi tetap saja, frame nya orang selingkuh di mata saya, salah. Bagaimana bisa? Karena ada yang nyungsep, yaitu ketidakjelasan hubungan, dan nihilnya keberanian untuk mengambil keputusan dalam menentukan pilihan, hingga seseorang yang selingkuh lebih memilih untuk mempertahankan hal-hal penuh konstrain dalam kamus selingkuh. Bermesraan ngga boleh ditempat umum takut keliatan, di HP, nama selingkuhan ngga boleh disave dengan “Echi Sayang” malah disave “Echi TI04”. Penuh konstrain bukan?
Lalu apa yang menyebabkan dua orang bisa selingkuh dan berjalan sejalan, saling pengertian, dan tidak lagi mempermasalahkan status selingkuh? Apa yang menyebabkan seorang selingkuhan bisa menerima untuk tidak selalu di nomorsatukan, menahan ego, dan mengorbakan perasaan? Malah menurut saya, disitulah orang tersebut memaknai cinta. Seperti kata-kata klise yang sering saya dengar, cinta adalah saat kamu menyayangi seseorang dengan segenap hati, dan merelakan apa yang kan membuatnya bahagia, termasuk membiarkannya bahagia bersama orang lain.
Hmm.. pada dasarnya, semua orang patut bahagia dan dibahagiakan. Jatuh cinta, berjuta rasanya. Orang yang selingkuh, karena jatuh cinta jugakah? Tergantung niat. Kalo niat baik, jalannya juga pasti baik. Tinggal kitanya saja yang harus memilih, seperti apa kita akan menjalani dan mengungkapkannya kelak, karena perselingkuhan juga ngga selamanya akan jadi perselingkuhan. Semua ada endingnya. Dan percaya nggak? Orang di rumah saya sendiri, buka kartu, ternyata ia menikah dengan selingkuhannya. Yeah, yang berawal dari hati, akan kembali ke hati. Konlusi : selingkuh juga salah satu cara Tuhan mempertemukan kita dengan jodoh kan? Jangan bilang “nggak!”
April 2nd, 2007 at 12:21 am
Pengalaman prbadi bos?
April 3rd, 2007 at 9:00 pm
hahahahaaaa..
April 6th, 2007 at 1:13 am
selingkuh = selingan di kala jenuh…
cuma menurut kamu, selingkuh bukan hanya selingan,,
kamu terlihat berpengalaman sekali ttg selingkuh,, wew..
April 26th, 2007 at 8:57 am
persuasif ato narasi nih..??!?!?
harus banyak filter..
August 13th, 2007 at 12:06 pm
Sebelumnya sori kalo ngga kenal, saya temennya romi, ngga sengaja baca tulisan kamu tentang selingkuh, hehe…
Pas banget pas lagi galau, baca tulisan ini. Interesting writings, expressive, smart, tapi yang paling penting: pas banget sama suasana hati saya, hehe…
June 10th, 2008 at 10:17 am
gak!
Hehehe..
September 12th, 2008 at 6:17 am
kok aq jadi ingad artikel2 teman ku yang anak Psikologi yah??
tq, artikelmu menambah file di kognitifku.
September 22nd, 2008 at 1:19 am
yah, you fair dalam melihat masalah. salut gw. emang tergantung kita mensikapinya dan tergantung niatnya. boleh juga tulisannya.