PENDIDIKAN SEBAGAI MESIN
November 6, 2006
Hmm.. omongan kali ini mulai merembet ke pendidikan, menyambung lidah Pak Gede Raka, dosen Manajemen Inovasi idola saya. Meneropong pendidikan Indonesia dewasa ini. Pendidikan dengan mesin? Analoginya seperti ini. Pendidikan pada hakekatnya punya tujuan (perlukah saya tuangkan disini?) Jika pendidikan kita ibaratkan sebagai mesin, maka untuk menjalankan mesin, kita perlu menekan tombol-tombol pada mesin dan ia pun akan bekerja. Apakah setelah tombol ditekan, tugas kita selesai? Retorika buat logika Anda.
“We don’t do education, we do training”, katanya.
Sejak kecil kita digenjot dengan all about damn contextual education. Yang mengantarkan kuliah atau pelajaran sekolah dengan kalimat standar: pen-di-di-kan-a-da-lah-ti-tik-du-a-bla-bla-bla. Belum lagi nominal nominal –all of the fucking money things- yang setia menjadi pelengkap atau keterangan di setiap kalimat berbau pendidikan. Kuliah sekian juta, masuk SMU negeri sekian duit. Mahalnya pendidikan, tidak diimbangi dengan hakikat pendidikan itu sendiri.
Tidak heran, korupsi paling parah malah terjadi di DepAg. What’s this? Failure of education, yang mencetak orang-orang dengan Lot of Brain, No Heart. Pendidikan harusnya bukan sekedar cuap-cuap cacip cacip proses mahal yang kaku. Dalam komunitas pendidikan, system perintah dan tunggu-hasil saja belum cukup, seperti apa yang kita lakukan pada mesin.
Ada yang disebut ‘proses’, termasuk di dalamnya interaksi elemen-elemen pendidikan tersebut dengan lingkungan (bukan sekedar siapa tetangga Anda), tata nilai (bukan sekedar tata bahasa, tata busana atau tata-tata lainnya), budaya (bukan buaya), struktur(bukan sekedar pengetahuan struktur-nya TL atau struktur jembatan beton-nya Sipil), dan banyak hal lain yang harusnya jika diterapkan dengan baik tidak akan lagi memproduksi robot-robot dengan mental-machine model. Sebagaimana kita tau, mesin tidak butuh interaksi dengan lingkungan, dan kita bukan bagiannya kan?
Jadi, mari kita belajar melihat value-value lain yang bertebaran di sekitar kita. Semua bisa jadi pelajaran. Mungkin dengan itu, selain kita akan lebih berjiwa “tidak mesin”, kita juga belajar membelajarkan diri sendiri. (No hard feeling for HMM ya. Objek omongan kita beda ya? ;p)
[Thanks to PSIK ITB, sekolah hidup-ku..]
November 17th, 2006 at 12:03 pm
nice job…
January 23rd, 2007 at 6:14 am
hei…..echi makin gitu aja yah karena dah hampir sukses jadinya lupa ma teman lama.
ni aku deni bisa sms aku nga setelah simpan no ku ini
081382383673
January 23rd, 2007 at 6:17 am
memang echi seorang penulis ulung yahh, tinggal buatin novel pesaing harry potter tapi jangan lupa kuliahnya donggg
February 6th, 2007 at 8:56 pm
Deni… Nomer kmu udah saya save koq. Tunggu panggilan saja ya, hehehe.. Laen kali jangan di obral di blog dong ah! ;P