Ke “WAROENG DAWEUNG”

September 23, 2006

Pernah ke WAROENG DAWEUNG? Minggu lalu, Dio, Usher, Sawung, dan saya [the one and only beautiful lady] diculik kesana oleh Erik habis praktikum PTI. Ups, ini tidak ada irisannya dengan cerita penculikan anak-anak TePeBe ITeBe yang sedang marak yah. Bukan sama sekali. [Piss buat para penculik (^_^)v]
060915_175343
Dsc01709
Dsc01704

Terletak di ujung dunia [kalau saya boleh menyebut demikian, berhubung kemampuan saya dalam mengingat nama, lokasi, kecamatan, suatu tempat Pentium1 banget], tempat ini bisa dicapai setelah mendaki sebuah gunung di Padasuka, Cimohay [Cimahi versi saya ;p] setelah terlebih dahulu [harus] melewati perkampungan, bukit dan lembah, terjal dan curam yang cukup memacu adrenalin—kalau kesananya pake mobil HardTop atau Rocky, atau mobil mountclimber sejenis.

Dsc01708060915_174905_1     

Dsc01697

Dari puncak, kita bisa menikmati View kota Bandung. Apalagi kalau malam, lengkap dengan kelap-kelip lampu aneka warna. Seperti View Singapura, atau Danau Toba saat malam. Pas sekali dengan cakrawala nan temaram. Menyatu di kaki langit. Sepanjang mata memandang, ya View nya kota Bandung. So sophisticated. Ya.. sedikit mirip The Peak, The View, WaLe, atau Kampung Daun. Bedanya, mungkin sensasi setelah sampai di WAROENG DAWEUNG lebih terasa, karena medan yang dilewati cukup sulit, serasa menaklukkan gunung. (Halah, halah.. kegemaran saya memakai kata “sensasi”, “gunung”, dan “takluk” keluar lagi.)

Intinya: tempatnya E.K.S.O.T.I.S. Makanan enak, viewnya asyik. Tapi kalau pesan makanan atau minuman, harus secepatnya di’masukin ke perut’. Soale dingin euy! Makanya, bawa jaket juga. Yang tebal, jangan yang topless atau backless atau bottomless. [Hwihihi. Kalau bottomless, itu sepertinya rancangan saya sendiri ;p]


060915_174507_2 060915_174822_3
Biarpun di perjalanan pulang mobil sempat mogok, s-a-y-a  s-e-n-a-n-g. Apalagi topik ‘nungging’-nya teman-teman saya yang jelek-jelek itu benar-benar vulgar mengocok perut. Ahahaha hihihi… [Guys, you were damn nasty and Thank you!] Kalau ada yang stress, saya mendukung untuk pergi kesana. Apalagi kalau ‘ngajak saya. Hehehe.. Yang paling bawah, photographernya mao ikutan mejeng =]p.. Siapa yang mau ikut sama ‘beliau’? Hehehe..

BERLALU..

September 10, 2006

TerdamparDua minggu terakhir, tepatnya setelah matahari berkata: ia masih terbit di Timur dan membawa hari baru.

Ketika kemudian saya sadar telah kehilangan sesuatu yang mungkin tak akan kembali, saya ikhlas berterimakasih untuk semua. Ingin berteriak penuh harap. Membuang sesal dan membiarkannya tergilas kereta yang membawa saya menuju Jakarta. Bosan menunggu telefon, bosan menunggu jawaban SMS, bosan dicueki dan meminta maaf. Meng-amputasi bagian otak saya yang masih berfikir tentangnya. Kali ini, mencoba mengalihkan pandangan ke sudut lain yang selama ini temaram.

Berharap masih bisa membahagiakan orang-orang yang berada di sekeliling saya..

Adikku, mulai nanti malam kita makan bareng ya…  Kakak nggak akan makan diluar lagi..

 

 

 

 

TANPA JUDUL

September 6, 2006

Mereka memasuki angkot. Ya, mereka. Pemain ganda campuran yang menyusul saya memasuki angkot ungu jurusan Cisitu, yang akan membawa saya menuju kos setelah seharian mondar-mandir di kampus nggak jelas juntrungan.

Seorang pria, seorang wanita. Duduk di hadapan saya dengan selamat sentausa. Si wanita pake jilbab. Prianya, biasa saja [maksud saya, prianya nggak ikutan pake jilbab ].

Entah sudah daritadi atau darimana, mereka [ehm!] berpegangan tangan terus. Saling meremas [tangan]. Dan… Welcome move nya adalah: Wanita yang pakai jilbab itu, mengusap-usap tangan kanan pasangannya, menciumnya, lalu menggigitnya pelan. Pria itu, berteriak pelan juga. Berbisik, tepatnya. Menyambut ‘kenakalan’ pacarnya dengan cubitan kecil dipinggang. Giliran si wanita yang teriak sekarang. Lalu saling bersandar. Tubuh keduanya sangat lekat. “Jiwa yang sama-sama nakal”, batin saya.

Terlepas dari status mereka pacaran atau tunangan atau selingkuhan atau apalah, saya rasa ITB masih punya banyak pilihan tempat buat pacaran, kalo memang tujuannya itu. Yang jauh lebih nyaman dan ‘tidak mengganggu kenyamanan orang’. Di perpustakaan, di taman Ganesha, di pojokan Salman. Terbuka buat semua orang. Dari yang terancam DO sampai yang asisten dosen. Dari yang ngomongnya pakai kata-kata mesum sampai assalamualaikum. Dari yang mau baik-baikan sampai nakal-nakalan. Ya nggak? 

Hmm.. setidaknya ini pemandangan yang menghasilkan output, “Iman letaknya di hati, bukan di kepala”. [Kepala siapa? Jangan pura-pura tulalit ya.. Lihat paragraph kedua baris kedua]

Sepanjang perjalanan pulang, saya jadi teringat dengan kejadian beberapa bulan lalu. Saya ikut dalam rombongan danus sebuah acara TI ke Jakarta. Moment dimana saya menemukan sebuah gank [selama ini saya sering kagum dengan icon-icon kekompakan mereka] yang membicarakan keburukan/privacy anggota gank lainnya. Di hadapan saya dan anak-anak lain yang notabene bukan anggota gank mereka. Vulgar, tanpa filter.

Lantas, saya jadi berfikir. Apa sih, semua ini?

Sekelompok orang yang takut dianggap tidak eksis, lantas mengatasnamakan dirinya sebagai bagian dari “sesuatu” sebagai tameng? Yang takut kehilangan teman dan kawan nongkrong? Yang pakai jilbab tapi hatinya nggak dijilbabin, yang jadi anggota gank ini itu dan mendeklarasikan kekompakan kemana-mana tapi nol kosong? Nggak ada masalah sih, sama orang-orang seperti itu. Kasihan saja.

Untung my Cisitu Road City nggak macet. Kalau tidak, dosa saya bisa bertambah banyak. Ngomongin keburukan orang, mengumpat dalam hati, dan yang paling buruk: mengobralnya di blog ini. Maafkan saya ya, Tuhan… Makanya saya belom pantes nih, pake jilbab…

AKU MERINDUKAN MEREKA…

September 4, 2006

         Family                                       “Mau beli apa nak?”, tanya Papa.

                  “Chi mau maltabak Pap..”

      
            “Yang telor apa yang manis…”

                  “Yang telol ajah… Chi nggak suka yang manis-manis..”

     …Echi kecil duduk di boncengan Papa, dengan erat memeluk pinggangnya. Dibawa jalan keliling rumah tetangga naik GL Pro, sore-sore habis mandi…

        Tiba-tiba saya teringat semua, kemarin pas naik angkot menuju kos. Seorang anak kecil mungil duduk di boncengan motor papanya. Yang dengan polos memeluk erat tubuh itu karena hanya ada dua pilihan : peluk Papa atau jatuh. Bukan karena ia tau, mengapa harus memeluk Papa?

[Papa, putrimu ini sudah banyak berubah. Sudah sering jatuh. Sudah belajar mencari sosok seperti dirimu, dan menjadikannya Papa bagi anakku kelak. Sudah mengenal dosa dan karmanya. Mengenal cinta dan sakitnya. Dan masih sering merasa sendiri saja saat merindukan orang-orang tercintanya…

Tapi aku tetap putrimu, yang masih rapuh dan sering menangis menghadapi dunia. Termasuk kini, saat aku merasa berjalan hanya sendiri dan hampir tersandung batu jalanan yang kadang membuat kulit telapak kakiku terbuka...]