KONTRAS

July 6, 2006

PAPARAZZI Cafe, Bar, and Lounge
Plaza Indonesia
Jakarta, 05 Juli 2006

Temaram. Pendingin ruangan. Saya bingung harus berucap apa menghadapi bule disebelah. English saya masih terlalu belepotan untuk dipamerkan. Saya menemani kakak, bertemu rekan bisnisnya. Duduk bersama mereka di kursi sofa merah maroon berlapis beludru : kakak saya, seorang calon investor, programmer, IT Analyst, dan seorang pengangguran: saya. Begini nih, orang kalau sudah keseringan memakai logika. Seorang programmer yang duduk di hadapan saya tampak sangat menyebalkan. Dia bicara, kakak saya jawab, dan ditanggapi dengan dingin. ‘Uh, nggak ada sopan-sopannya sama sekali’, batin saya.

Di kursi sebelah saya, sepasang anak manusia yang tengah mengumbar hasrat. Bertegur bibir sejenak, yang menuai hasrat berikutnya. Hanya Adam-adam dipojok ruangan yang memandang dengan ‘terpaksa’. Terpaksa menahan gejolak di dalam sana.

Pandangan saya keluar. Hiruk pikuk maruk Jakarta di Bunderan HI. Terhenti pada sosok penjual nasi goreng. Bunyi penggorengan dan kuali besi yang tak beraturan, beradu dengan melodi musik jazz di telinga saya. Dua hal yang kontras. Letih dan keringat di wajahnya, dengan aroma parfum orang-orang disekitar saya. Dua hal yang kontras. Panas tubuhnya, debu jalanan, gas dari penggorengan, dan nyamannya AC tempat saya  duduk. Dua hal yang kontras. Tak perlu sebotol Vodka atau Tequila untuk bisa menggantikan omset nasi gorengnya sepanjang malam ini. Dua atau tiga botol Corona atau Sex In The Catwalk sudah cukup. Dua hal yang kontras atau ironis? Macet jalanan, klakson Taksi, deru mobil, dengan ‘kosong’ dalam hati disini. Dua hal yang kontras. Tukang nasi goreng itu dengan saya, bukan dua hal yang kontras.

Untung lelaki calon investor itu yang membayar semua tagihan. Saya bisa sangat tidak rela. Tiba-tiba saja, saya segera ingin meninggalkan tempat ini.